Langsung ke konten utama

kearifan lokal



BAB I
PENDAHULUAN

Adapun pendahuluan dalam makalah ini, yaitu:  1) latar belakang, 2) rumusan masalah, 3) tujuan
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang sangat kaya dengan sumber plasma nutfah, bila dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia. Karena terdiri lebih dari 17.000 pulau dan terletak di antara dua benua dan dua samudera membentuk keanekaragaman ekosistem sekurang-kurangnya 42 ekosistem daratan alami dan 5 ekosistem lautan. Hal itu memungkinkan Indonesia memiliki plasma nutfah yang sangat tinggi keanekaragamannya.Saat ini, kita dihadapkan pada masalah utama, yaitu hilangnya jenis-jenis tanaman yang sering disebut erosi genetik. Sebagai contoh, FAO telah memperkirakan bahwa dunia sampai saat ini telah kehilangan sekitar 75% keanekaragaman genetik pertanian. Sedangkan untuk jenis ikan air tawar sedikitnya 20% sudah langka dan sudah mengalami penurunan populasi secara serius karena degradasi lingkungan dan pengelolaan sumber daya ikan yang tidak tepat. Dari sekitar 300 jenis tanaman yang menjadi sumber pangan masyarakat tradisional, saat ini tinggal 100 jenis yang dibudidayakan untuk memenuhi kebutuhan pangan penduduk. Dari 100 jenis tanaman tersebut, hanya sekitar 15 jenis yang menjadi sumber pangan utama penduduk dunia antara lain padi, gandum, jagung, barley, sorgum, kentang, kedelai, dan ketela pohon (Kusumo dkk., 2002).
Dengan telah diratifikasinya Convention Biological Diversity (CBD) dimana diakui hak National Sovereignity Right of Plant Genetic Resources, maka Indonesia wajib melindungi, melestarikan, mengatur dan mendukung pemanfaatan plasma nutfah secara optimal (Sutoro, 2006).




1.2  Rumusan masalah
1.2.1.       Apa pengertian kearifan lokal?
1.2.2        Bagaimana proses penanaman padi tradisional di dusun ai puntuk?
1.2.3         Apa saja salah satu alat yang digunakan pada pertanian tradisional

1.3  Tujuan
Tujuan dibentuknya makalah ini adalah:
1.3.1   Mengetahui dan memahami pengertian kearifan lokal
1.3.2   Mengetahui dan memahami proses penanaman padi tradisional ai puntuk
1.3.3   Mengetahui dan memahami salah satu alat yang digunakan pada pertanian tradisional



















BAB II
PEMBAHASAN

Adapun pembahasan dalam makalah ini, yaitu: 1) pengertian kearifan lokal, 2) proses penanaman padi tradisional dusun ai puntuk, 3) alat-alat yang digunakan pada pertanian tradisional

2.1 Pengertian Kearifan lokal
Kearifan lokal dapat didefinisikan sebagai suatu kekayaan budaya lokal yang mengandung kebijakan hidup; pandangan hidup (way of life) yang mengakomodasi kebijakan (wisdom) dan kearifan hidup. Di Indonesia yang kita kenal sebagai Nusantara kearifan lokal itu tidak hanya berlaku secara lokal pada budaya atau etnik tertentu, tetapi dapat dikatakan bersifat lintas budaya atau lintas etnik sehingga membentuk nilai budaya yang bersifat nasional. Sebagai contoh, hampir di setiap budaya lokal di Nusantara dikenal kearifan lokal yang mengajarkan gotong royong, toleransi, etos kerja, dan seterusnya. Pada umumnya etika dan nilai moral yang terkandung dalam kearifan lokal diajarkan turun-temurun, diwariskan dari generasi ke generasi melalui sastra lisan (antara lain dalam bentuk pepatah dan peribahasa, folklore), dan manuskrip.
Walaupun ada upaya pewarisan kearifan lokal dari generasi ke generasi, tidak ada jaminan bahwa kearifan lokal akan tetap kukuh menghadapi globalisasi yang menawarkan gaya hidup yang makin pragmatis dan konsumtif. Secara faktual dapat kita saksikan bagaimana kearifan lokal yang sarat kebijakan dan filosofi hidup nyaris tidak terimplementasikan dalam praktik hidup yang makin pragmatis. Korupsi yang merajalela hampir di semua level adalah bukti nyata pengingkaran terhadap kearifan lokal yang mengajarkan “bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”; “hemat pangkal kaya”.
Pengetahuan lokal ternyata bisa menjadi salah satu solusi mengatasi dampak perubahan iklim disektor pertanian terutama dalam mengatasi krisis pangan ditingkat komunitas. Sebuah penelitian terbaru dari International Institute for Environment and Development (IIED) mengungkapkan kearifan lokal yang diajarkan turun temurun telah menuntun masyarakat tradisional yang terbelakang sekalipun mampu bertahan menghadapi perubahan iklim. Praktek-praktek tradisional itu disesuaikan dengan ketinggian tempat, jenih tanah, curah hujan dan sebagainya yang kesemuanya mendukung keberlanjutan lingkungan.
Para petani telah terbiasa menggunakan tanaman lokal untuk mengendalikan hama dengan cara memilih varietas tanaman yang mampu mentolerir kondisi ekstrim seperti kekeringan dan banjir, menanam beragam tanaman untuk menghadapi ketidakpastian di masa depan.
Pemuliaan varietas jenis baru secara lokal ini dilakukan berdasarkan ciri-ciri kualitas yang melindungi keanekaragaman hayati.
Varietas benih lokal yang telah dikembangkan secara lokal lebih cocok dengan kondisi lokal yang berlaku -seperti tanah dan hama- bahkan dengan perubahan iklim seperti kekeringan.


2.2   Proses Penanaman Padi Tradisional Dusun Ai Puntuk
2.2.1  Proses awal
Setelah datangnya musim hujan para petani mulai sibuk mempersiapkan diri, mulai dari memperbaiki pagar-pagar  sampai mempersiapkan alat-alat bertani seperti cangkul, sekop sampai bibit padi. Pertama, petani mulai merendam bibit selama 2 hari di dalam periuk tanah kemudian ditiriskan, Setelah itu menggarap sepetak sawah dengan menggunakan rengala ( alat bajak teradisional) di tarik menggunakan kerbau sampai tanah nya lunak, kemudian baru setelah itu bibit padi ditabur. Setelah menabur binih petani membajak sawahnya (semakat) namun masih secara kasar artinya belum siap pakai,  menunggu bibit nya siap tanam umurnya sekitar 20 – 30 hari petani membajak sawahnya secara sampai halus menggunakan kareng (alat untuk menghaluskan tanah sawah setelah selesai di bajak ).

2.2.2  Proses menanam padi
Bibit siap tanam petani  secara bergotong royong ( basiru )  menanam padinya, setelah itu tidak ada pemeliharaan lebih lanjut. Setelah padi belis ( mengeluarkan buah ) petani biasanya menyebutkan dengan sawir bintang dan memberikan obat tradisional atau dengan sebutan ( apis ) menggunakan daun srikaya, daun keru, dan air beras lalu ditumbuk di taburkan ke padi tersebut selama 3 hari berturut-turut mengikuti arah angin, dan buah bila ma’e ditusukan diujung kayu kemudian ditanam disetiap ujung pematang sawah guna menghindari burung yang memakan buah padi, Untuk menghindarkan padi dari gangguan hama para petani biasanya  membakar terasi, sabut kelapa, dedak ( ungin ) diatas pematang agar terjauh dari hama.




2.2.3  Proses akhir
Setelah padi berumur 6 bulan padi sudah siap dipanen  para petani mempersiapkan alat untuk memanen seperti ane-ane ( rangap ) yaitu alat memotong padi, sebelum padi dipanen para petani mengadakan acara beranak bawi yaitu memotong hewan untuk memberi makan para tamu undangan sambil belawas, bagero. Setelah acara beranak bawi selesai petani mulai memanen dengan cara memotongnya dari tangkai menggunakan rangap (ane-ane) dengan cara di jepitkan ditangan dan padi di ikat kecil-kecil menggunakan tereng (bambu) sebutan dengan istilah 1 gutis= 4 sepa, 10 gutis= 1 dit, 10 dit=  1 bu, 10 bu= 1 jalan padi yang sudah selesai dipanen lalu menyimpannya di atas alang ( plafon ) dengan cara digantung agar padi tidak rusak, untuk menjadi beras padi yang sudah ikat diambil kemudian digiling menggunakan rantok (alat tradisional ) dengan ditubuk kemudian disimpan kameras tana/tobang ( tempat penyimpan beras).

2.3  Alat-alat Yang Digunakan Pada Pertanian Tradisional
Adapun beberapa alat yang digunakan para petani zaman dulu untuk melakukan
penanaman padi tradisional, diantaranya adalah:
ü  Rangap

            Rangap (ane-ane), yaitu alat yang digunakan untuk memotong padi saat padi telah siap untuk dipanen atau disaat padi telah berumur 6 bulan.

ü  Rangala
Rangala atau yang biasa dikenal dengan alat bajak tradisional yaitu alat yang digunakan untuk membajak sawah yang ditarik menggunakan kerbau sampai tanahnya menjadi lunak, kemudian baru setelah itu bibit padi ditabur.

ü  Rantok
            Rantok adalah alat tradisional pertanian yang berfungsi untuk menggiling padi dengan cara ditumbuk menggunakan tongkat kayu sampai berasnya terpisah dari kulit pelindungnya.



BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
              Dari uraian pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa :
1.      Kearifan lokal didefinisikan sebagai suatu kekayaan budaya lokal yang mengandung kebijakan hidup, pandangan hidup yang mengakomodasi kebijakan dan kearifan hidup.
2.      Dalam melakukan penanaman padi tradisional terdapat 3 proses yang harus dijalankan, yaitu :
a)      Proses Awal, dimana pada tahap ini digunakan untuk mempersiapkan alat dan bahan untuk memulai pertanian terutama mempersiapkan bibit yang siap dipakai yakni berusia 20-30 hari.
b)      Proses Menanam Padi, pada proses inilah para petani mulai melakukan penanaman padi secara tradisional dengan menggunakan bibit yang telah disiapkan pada tahap awal.
c)      Proses Akhir, pada tahap inilah dimana hasil penanaman itu dipanen dan diolah sampai akhirnya menjadi beras.
3.      Beberapa alat yang digunakan untuk melakukan penanaman padi tradisional diantaranya adalah : rangap berfungsi untuk memotong padi saat panen, rangala digunakan untuk membajak sawah dan rantok berfungsi untuk menumbuk padi menjadi beras.








DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2010







Komentar